Halimun senja menuju ke peraduannya
Sunyi senyap tiba-tiba menyapa
Mengantarkan keresahan jiwa yang kembali berujung duka
Ah andai saja aku tidak salah duga sebelumnya
Mungkin saja aku tak semerana ini sekarang
Guratan cerita yang berbintik-bintik noda
Menghempaskan aku kembali pada ujung cerita yang sama
Setiap aku memulainya lagi mesti beginilah akhirnya
Ah nestapa yang bagaimana lagi kah yang meski aku susupi
Mesti berapa lagi naskah kehidupan ini kutulis dengan tinta dan ending serupa
Bukankah menjemukan mengulang cerita sama
Gumpalan awan ini seolah menari dengan serakahnya
Memojokkan aku pada sudut yang paling pengap
Akibat salah ekspektasi dan terlalu tingginya gap dengan realitas
Aku masih sadar sampai akhirnya kusadari aku benar-benar terlempar
Ah . . . . andai saja cerita ini bisa kuubah endingnya
Menjadi cerita yang kusuka
Menjadi cerita yang bisa kumakanai lebih dalam
Menjadi cerita dengan bertabur bunga kebahagiaan
Harapan satu-satunya pun ikut sirna
Pergi bersama keangkuhan dan keenggananku mengulang lagi kegagalan yang sama
Kemana perginya keberanianku
Kemana perginya kenekatan dan jiwa petulang
Mengapa semua meninggalkanku
Berganti dengan kenyamanan yang menyiksa
Mematikan urat nadi keberanian dan nyali
Ah jangan-jangan andrenalinku juga lenyap
Akankah ketakutan tidak lagi berarti seram
Akankah kelucuan tidak lagi berarti tawa
Akankah kebahagiaan tidak lagi berarti ketentraman jiwa
Akankah nurani tidak mampu lagi berbicara
Semoga kali ini aku bisa menulis kembali cerita
Dengan butiran air mata yang menyala
Dan sedikit darah yang tertetes sehingga benar-benar bermakna
Dan punya akhir cerita yang tidak lagi sama
Surabaya 02 April 2009
(Setelah mendapatan telpon yang benar-benar membuatku drop)